Semua Anak adalah Juara

By Umniyati Kowi

Saya beruntung pernah memiliki murid bernama Citra. Pertemanan saya dengannya selalu memotivasi saya untuk menjadi orang tua pencinta.

Banyak sekali mutiara dan hikmah yang saya petik selama menjadi guru SD. Salah satunya adalah hikmah menangani murid “special” bernama Citra.

Saat awal pertemuan kami, Citra tak berbeda dengan murid-murid lainnya di kelas satu. Dia ikut berbaris dengan teman-temannya. Dia menjawab salam yang saya ucapkan. Dan dia tertawa saat saya menceritakan hal yang lucu.

Tapi semua menjadi sangat berbeda saat pelajaran dimulai. Ketika saya memintanya membuka buku matematika, dia membuka buku Bahasa Indonesia. Saat saya memintanya menulis di buku, dia malah menggambar bunga. Dan ketika murid lainnya mulai menulis, dia malah berbaring di meja.

Kondisi ini terjadi hampir setiap hari. Citra tak pernah mau menulis pelajaran di bukunya. Bukunya hanya ia gambari dengan bunga. Sesekali ia menulis namanya sendiri di buku…CITRA. Dan hanya nama itu saja yang bisa ia tulis. Saat saya memintanya menulis kata yang lain dia hanya menggeleng dan tersenyum.

Perlahan saya maklum, bahwa Citra ternyata belum bisa membaca.  Alhasil, di sela-sela mengajar saya selalu datang ke mejanya, menerangkan kembali apa yang barusan saya tulis di papan tulis. Lalu saya memintanya untuk menjawab beberapa pertanyaan. Tapi Citra hanya menggeleng. Dia malah bercerita tentang adiknya di rumah. “Bu guru, adik lagi makan di rumah sama mama,” katanya. Dia tersenyum. Begitu senang mengingat adiknya di rumah. Dan saya pun ikut tersenyum melihat reaksinya. “Citra sayang sama adik?”. “Iya, adik lagi makan,” katanya. Alhasil kami tidak membahas materi pelajaran. Saya membiarkan dia bercerita panjang lebar tentang adiknya yang baru berumur satu tahun.

Tak jarang persoalan yang kerap terjadi di dalam kelas menjadi bahan diskusi para guru. Seorang guru yang lebih senior selalu tampak emosi bila membahas tentang Citra. “Aku jengkel bangeeet sama Citra. Dia itu nggak pernah mau menulis. Aku sampai capek menyuruh dia menulis tapi dia malah menggambar bunga!”

Seorang rekan guru lainnya menimpali. “Mending kalau disuruh menulis. Membaca saja dia nggak bisa. Apalagi menghitung. Bodoh banget! Saya heran kok bisa-bisanya sekolah ini menerima murid kelas satu yang belum bisa baca tulis hitung….”

Saya kerap merenung mendengarkan percakapan antarguru. Benarkah Citra bodoh? Apakah anak yang belum bisa membaca dan menulis di kelas satu bisa langsung dicap bodoh? Saat saya mengobrol dengan Citra tentang kejadian di rumahnya, saya justru melihat binar kecerdasan dari matanya. Dia sangat gemar bercerita. Dia menceritakan adiknya dengan detil. Dia juga bercerita tentang mamanya. Bagi saya kemampuannya bercerita itu sangat menarik. Di mata saya dia sangat cerdas.

Disleksia

Didorong rasa sayang saya pada murid “special” ini, saya pun rajin browsing internet. Saya menggali beberapa kemungkinan yang terjadi pada Citra. Apakah dia autis? Sepertinya tidak. Karena saat kami mengobrol, dia menatap mata saya. Saat ia bercerita pun ia fokus pada tema ceritanya, tidak melebar ke sana kemari. Apakah dia down syndrome? Sepertinya juga tidak. Apakah IQ nya rendah? Tampaknya tidak. Setidaknya ia bisa menyusun sebuah cerita dengan baik.

Lalu, apa gerangan penyebab ia sulit membaca dan menulis? Mengapa ia susah sekali membedakan huruh “b” dan “d”? Mengapa ia sering tertukar membaca kata “tapi” dengan “tida”? Mengapa pula ia sulit berhitung? Sebagai guru saya wajib menuntun dia untuk bisa membaca. Bagaimana pertanggungjawaban saya sebagai guru bila saya menaikkannya ke kelas dua sementara ia belum bisa membaca?

Tanpa sengaja saya menemukan sebuah artikel tentang “disleksia”. Saat saya selesai membaca artikel tersebut saya pun terkesima. Artikel ini “Citra bangeeeet!”

Artikel itu menulis, bahwa kata “disleksia” berasal dari bahasa Yunani, yakni “dys” yang berarti “kesulitan dalam hal tertentu” dan “lex” dari kata “legein” yang artinya berbicara. Jadi, seorang yang menderita “disleksia” berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis.

Di sekolah, anak-anak penderita disleksia mengalami kesulitan belajar. Seperti, sulit membaca, mengeja, menulis, dan menghitung. Mereka sulit membedakan antara arah kanan dan kiri, dan itu mempengaruhinya dalam membedakan huruf yang terlihat mirp. Misalnya huruf b, d, dan p. Mereka juga sering bingung membedakan angka yang bentuknya mirip, seperti angka 23 dan 32. Kelemahan lain, mereka salah dalam mengeja atau membaca rangkaian huruf tertentu, seperti kata “left” yang dibaca atau ditulis “felt”, atau kata “gajah” yang dibaca atau ditulis “jagah”.

Artikel itu juga membahas penanganan murid disleksia. Untuk murid spesial ini sebaiknya diterapkan strategi pembelajaran metode multisensory, metode fonik, atau metode linguistic. Salah satu penerapan metode fonik atau bunyi adalah memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya huruf B dibunyikan eb, atau hurup D dibunyikan ed.

Dalam satu artikel yang lain saya menemukan satu fakta unik. Tulisan itu merujuk sebuah majalah di AS yang menyebutkan bahwa mantan Presiden AS, George W, Bush juga penderita disleksia. Pasalnya saat masa kampanye pemilihan Presiden AS ia sering mengucapkan kata yang salah. Misalnya, kata “peacemaker” yang berarti pencipta perdamaian ia ucapkan “pacemaker” yang maknanya alat pemacu jantung. Ada beberapa kata lain yang ia ucapkan secara salah, dan kesalahan pengucapan itu berlangsung konsisten. Sehingga ia bias dikategorikan menderita disleksia.

Sebuah artikel lain menegaskan bahwa intelegensi anak disleksia umumnya normal, bahkan acap di atas rata-rata. Misalnya cerita tentang Alexander Faludy, seorang penyandang disleksia. Saat baru masuk SD ia sangat susah menulis. Ia hanya bisa menulis satu atau dua kata, dan hanya ia sendiri yang bisa membaca tulisan itu. Orang tuanya secara rutin memperdengarkan kaset-kaset cerita kepada Faludy. Tak disangka daya ingatnya luar biasa. Faludy bisa mengingat kembali cerita yang ia dengar, dan menceritakan secara utuh kata demi kata. Klimaksnya, di usia 14, Faludy sudah berhasil masuk ke Cambridge University.

Saya pun lalu teringat pada Citra yang gemar bercerita. Seketika saya menjadi bersemangat saat membayangkan Citra pun bisa seperti Faludy.

Esoknya saya mencoba menghubungi orang tuanya. Ibunya, seorang perempuan sederhana, dan tampak tidak terlalu peduli pada kondisi anaknya. Tapi saya mencoba meyakinkan ibunya bahwa Citra harus dibantu dengan terapi belajar yang berulang. Dan saya meminta ijin untuk memberikan tambahan les untuk Citra sepulang sekolah.

Bukan hal yang mudah untuk menanamkan cinta membaca pada Citra. Perlu waktu untuk menjelaskan perbedaan huruf-huruf dan kata yang mirip. Perlu kesabaran untuk menyuruhnya menulis, dan bukan menggambar bunga. Ia sering mengeluh lelah belajar. Bila sudah begitu, saya akan berhenti mengajar dan mendengarkan dia bercerita tentang adiknya. Dan ketika dia sudah bosan bercerita, saya kembali membantunya membaca dan menulis.

Memang pada akhirnya saya tak bisa membantu Citra secara maksimal. Tugas bekerja di sebuah sekolah musik menjadikan saya sulit menyediakan waktu khusus bagi Citra di luar sekolah. Bahkan saat saya harus meninggalkan sekolah tersebut untuk sebuah pekerjaan di luar kota, saya tak lagi dapat mendampingi Citra.

Di hari terakhir saya mengajar di kelas, saya dikejutkan dengan sebuah surat dari Citra. “Apa ini sayang?” Tanya saya heran. “Surat untuk bu guru. Kenang-kenangan untuk ibu yang Citra sayang.” Saya terharu. Saya membuka surat itu, sebuah kertas origami yang ia gambari dengan bunga. Ada gambar hati di sana. Dan yang membuat saya sangat surprised, ada tulisan Citra di kertas itu. Saya sangat hafal tulisannya. Dia menulis “Selamat jalan Bu, Citra sayang sama bu guru…”

Seketika air mata saya menetes. “Ini tulisan kamu sayang?” Dia mengangguk. Saat itu juga saya merasa menjadi orang paling berbahagia. Setidaknya apa yang selama ini saya perjuangkan mulai berbuah.

Citra kini sudah bisa menulis. Dan kalimat pertama yang ia tuliskan kepada saya adalah sebuah tulisan yang indah.

Saya berjanji pada diri sendiri untuk selalu berpikir positif tentang semua anak. Karena ternyata tidak ada anak yang bodoh atau pandir. Saya percaya semua anak “special”. Semua anak adalah juara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s