Memaafkan itu Memperbaiki Rejeki

Sepintas memang tidak ada hubungan antara memaafkan dan rejeki. Tapi jiwa yang pemaaf menjadi lebih tenang, lebih bersemangat, dan lebih bahagia.

Sebuah tweet di @pemulihanjiwa sungguh menggugah hati: Memaafkan itu bukan untuk orang lain. Memaafkan adalah untuk dirimu sendiri.

Kok bisa ya? Kita kan memaafkan kesalahan orang lain yang kita anggap bersalah kepada kita. Tapi mengapa justru maaf tersebut bermanfaat bagi diri kita sendiri?

Itulah dahsyatnya memaafkan.

Pernah, dalam salah satu sessi pelatihan di sebuah Lembaga Pendidikan, saya merasakan indahnya memaafkan.

Saat itu di akhir sessi, sang Dosen mengajak kami sekelas untuk menuliskan nama-nama orang yang selama ini masih belum bisa kita maafkan. “Tuliskan nama mereka, bacakan nama mereka dan maafkan mereka dengan ikhlas,” katanya.

Kata Dosen tersebut, jika kita benar-benar ikhlas memaafkan semua orang yang bersalah terhadap kita, maka dalam waktu dekat kita akan mendapatkan keberkahan yang luar biasa. “Tunggulah beberapa waktu ke depan. Akan ada kejadian luar biasa yang Anda dapatkan,” katanya.

Saya saat itu sempat menyebutkan beberapa nama yang ingin saya maafkan. Maka, dengan penuh rasa ingin tahu saya pun menunggu, gerangan hal hebat apa yang akan saya jumpai.

Satu hari berlalu tanpa ada hal luar biasa. Begitu pula esok harinya. Lusanya pun demikian. Tapi apa yang terjadi satu minggu kemudian….? Ternyata saya sakit…flu berat…dan hampir sulit bangun dari tempat tidur.

Di tengah rasa sakit yang mendera, saya mendapat perhatian luar biasa dari seorang teman. Saya yang saat itu tinggal di sebuah rumah kos, ditolong seorang teman yang sangat baik dan penuh perhatian. Hampir setiap saat dia datang ke kamar saya, membawakan minum, makanan kecil, menawarkan pengobatan herbal, dan juga menghibur.

Teman kos yang penuh perhatian itu dari hari ke hari menjadi sahabat yang penuh pengertian dan sangat penolong. An friend indeed is a friend in need. Dia kerap menjadi solutor dari permasalahan saya.

Hingga suatu ketika saya pun teringat pada pesan sang Dosen yang pernah mengajarkan terapi maaf. “Tunggulah beberapa waktu ke depan. Akan ada kejadian luar biasa yang Anda dapatkan.”

Apakah kejadian luar biasa itu adalah hadirnya sahabat sejati yang begitu menyayangi saya seperti terhadap saudaranya sendiri? Entahlah. Bisa jadi, itu salah satunya.

Kurang lebih dua minggu lalu saya mengikuti training yang dipandu Dedy Susanto, salah seorang motivator idola saya. Dalam salah satu sessi training beliau mengajarkan kami terapi maaf. “Maafkanlah semua orang yang pernah bersalah kepada Anda. “Tuhan tidak mau umatnya saling membenci. Ikhlaskan dan maafkan. Maka tunggulah. Pasti rejekimu menjadi lebih baik.”

Rejeki itu, kata Dedy, tidak selalu berwujud uang. Tapi bisa berwujud ketenangan, keberkahan, dan kemudahan.

Maka dengan penuh khusyuk dan keikhlasan saya tuliskan lagi nama-nama orang yang belum bisa saya maafkan. Lalu saya ucapkan dengan lirih kepada nama-nama tersebut…saya maafkan kalian… saya ikhlas memaafkan kalian…

Beberapa hari selesai training anak saya menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS). Saya kembali H2C alias harap-harap cemas yang luar biasa. Entah mengapa setiap anak saya menjalani UAS, saya yang uring-uringan dan stress menunggu hasilnya. Anak saya yang masih duduk di bangku SD memang tidak hobby belajar. Bila pun membuka buku dia hanya membaca sesekali, dan setiap sepuluh menit minta break untuk bermain.

Tapi apa yang terjadi di hari pertama UASnya. Saat saya pulang kantor dia menyambut saya dengan ceria dan menyatakan “Mama… tadi aku bisa ulangan matematika!”. Alhamdulillah… Hampir tak percaya mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut si kecil. Biasanya dia selalu datang ke saya dengan ucapan…”Susah Ma tadi ulangannya…”

Selama hampir seminggu menjalani UAS anak saya tampak percaya diri dan bersemangat. Sungguh ajaib. Saya merasa takjub dan bersyukur. Inikah anugerah yang luar biasa itu?

Beberapa hari lalu saya dikejutkan oleh tawaran pekerjaan dari dua tempat berbeda. Meskipun belum merespon tawaran tersebut, dan masih akan mempertimbangkannya lebih lanjut, saya bersyukur masih ada yang menawari saya pekerjaan baru. Inikah keberkahan itu? Wallahu a’lam.

Saya masih terus menunggu berkah dan anugerah apa lagi yang akan terjadi… tentunya tetap dengan H2C alias harap-harap cemas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s