Membaca, I Love It!

Bacalah, di mana saja, kapan saja, dan dari sumber apa pun.

Andaikan buku itu sepotong pizza. Hhmm… pasti terbayang kan lezatnya. Aromanya yang menggugah selera, toppingnya yang beraneka…wah belum menyantap saja lidah kita sudah asyik bergoyang.

Itulah hebatnya Hernowo. Penulis buku “Andaikan Buku itu Sepotong Pizza” tak hanya piawai membuat judul, tapi juga ahli meracik isinya. Bukunya tak hanya berisi teks yang mengalir, tapi juga dibumbui gambar dan pemetaan yang mudah diingat. Membuat kita tak ingin berhenti untuk terus dan terus membaca.

Andaikan semua penulis seperti Hernowo. Mungkin anak-anak Indonesia akan sangat gemar membaca buku. Sama gemarnya mereka dengan pizza, burger, coklat, permen atau es krim.

Tapi sayangnya, anak-anak Indonesia sekarang lebih suka main games. Termasuk juga anak saya. Wah, luar biasa ragam permainan online tersedia untuk anak lelaki dan perempuan. Ada Dekorasi Es Krim, Beruang Teddy, Salon Hewan, Dandan Hamster Imut, atau Calon Bintang K-Pop untuk anak perempuan. Ada Monster Master, Pet Soccer, dan Anime Fighting Jam untuk anak lelaki. Semua bisa di download gratis dari internet.

Mengapa anak-anak lebih keranjingan main games daripada membaca? Mengutip info dari www.intisari-online.com, penyebab anak tidak mau membaca adalah komputer dan games. Ini hasil penelitian researcher dari Gothenburg University Swedia yang meneliti minat baca anak usia 9 dan 10 tahun di beberapa negara.

“Anak-anak lebih suka bermain komputer, dan ini berpengaruh pada penurunan ketertarikan anak-anak dalam membaca,” kata Profesor Monica Rosen, pemimpin penelitian itu.

Wah, kemajuan teknologi di satu sisi memang berguna. Tetapi disisi lain tetap saja ada implikasinya. Salah satunya yang disebutkan Profesor tadi, bahwa anak-anak lebih memilih bermain komputer ketimbang membaca.

Tren saat ini juga menunjukkan bahwa budaya membaca, khususnya membaca buku, bukanlah hal yang populer bagi sebagian anak dan remaja Indonesia. Bagi mereka, mengakses informasi tak selalu harus dari buku. Boleh jadi, fenomena maraknya situs jejaring sosial yang menjadi penyebab perubahan orientasi dalam mengakses informasi. Sekarang anak-anak dan remaja lebih memilih Facebook atau Twitter sebagai media untuk saling bertukar informasi tentang apapun.

Menyedihkan? Tentu tidak. Justru, semakin banyak kemudahan dalam mengakses informasi adalah anugerah. Sebagai orang tua kita pun selayaknya tidak menafikan perkembangan tekonologi. Karena dengan mengenalnya kita bisa membantu memandu anak-anak kita untuk berinternet secara sehat.

Fenomena e-Book

Buku adalah jendela dunia. Ini mazhab yang sudah bertahun-tahun kita yakini. Buku adalah kunci untuk membuka pintu dunia informasi.

Masalah adalah, mengapa buku kurang diminati?

Banyak faktor penyebabnya. Pertama, harga buku-buku bagus tidak murah. Hanya sebagian kalangan yang bisa menjangkaunya. Kedua, tidak banyak buku yang temanya bagus, alur ceritanya mengalir, dan inspiratif. Dari sekian banyak novel yang ada, tak semuanya semenarik buku-buku Harry Potter, Tetralogi Laskar Pelangi, The Da Vinci Code, The Kite Runner, The Lord of the Rings, atau A Tale of two Cities. Dari semua buku biografi yang ada, tak banyak yang sehebat Biografi Steve Jobs, atau buku-buku biografi karya Alberthiene Endah.

Bila pun ada buku-buku yang menarik dan berkualitas, harganya dijamin tidak murah. Jadi, persoalan tetap berputar di dua masalah klasik di atas.

Karena itu, beruntung sekali kita karena saat ini sudah mulai marak fenomena E-book (Electronic Book) atau buku elektronik. Inilah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronis melalui komputer. E-book ini berupa file dengan format bermacam-macam, ada yang berupa pdf yang bisa dibuka dengan program Acrobat Reader, ada juga dengan format htm yang dapat dibuka dengan browsing atau internet eksplorer secara offline, dan ada yang dalam format exe.

Fenomena E-book dan media online, termasuk situs jejaring sosial, memperkaya khasanah perbukuan kita. Patut kita syukuri. Karena toh upaya mencerdaskan kehidupan bangsa bisa bersumber dari media apapun, tanpa kecuali. Hanya butuh kearifan untuk memilah-milah sumber informasi terbaik yang layak untuk kita akses.

So, bacalah buku di mana saja, kapan saja, dan dari mana saja.

I love reading!

4 thoughts on “Membaca, I Love It!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s