PENDIDIKAN VOKASI, SOLUSI MENEKAN ANGKA PENGANGGURAN

 by Umniyati Kowi

Belum banyak yang memahami pentingnya pendidikan vokasi sebagai sarana mendidik mahasiswa siap pakai yang dibutuhkan industri dan dunia kerja.

 Usai sudah pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013 yang berlangsung serentak mulai 18 Juni lalu. Dimulai dengan ujian tulis pada 18 dan 19 Juni, disusul ujian ketrampilan yang diadakan pada dua hari berikutnya.

Kini, lebih dari 590 ribu peserta harap-harap cemas. Mereka yang baru saja berjuang memperebutkan 90 ribu kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbagi menjadi dua kelompok: optimis dan pesimis. Yang optimis percaya penuh akan mendapatkan satu jatah di PTN. Dan yang pesimis sudah jelas menyiapkan ancang-ancang bila gagal di SBMPTN.

Dari ribuan kelompok mahasiswa yang pesimis ini belum semuanya punya gambaran atau visi dalam memilih sekolah. Terkadang mereka hanya ikut-ikutan teman, atau hanya asal memilih yang penting kuliah. Ketidaktahuan tersebut bisa jadi karena beberapa faktor, sibuk sekolah, kurangnya penjelasan dari pihak sekolah, atau akses informasi yang terbatas.

Yang umumnya mereka tahu adalah tersedianya dua jenjang pendidikan di perguruan tinggi (PT), yakni jenjang diploma (D3) dan sarjana (S1). Tetapi tak semuanya paham apakah perbedaan signifikan antara kedua jenjang pendidikan itu dan cakupan pengajarannya.

Mungkin karena soal ketidaktahuan itu, atau karena mereka lebih memburu titel alias gelar sarjana, peminat program sarjana jauh lebih banyak ketimbang diploma. Seorang konsuler pendidikan pernah menyatakan, 6 dari 10 orangtua lebih menganjurkan anaknya masuk universitas yang memberikan gelar sarjana ketimbang memilih pendidikan yang hanya memberikan keahlian khusus.

Inilah kondisi riil yang menjadi fenomena dunia pendidikan Indonesia saat ini.  Banyak lulusan SMA atau sederajat memilih kuliah di PT yang memberi gelar sarjana untuk meningkatkan status sosial. Meskipun setelah lulus mereka tidak tertampung pasar dunia kerja. Dan hanya menambah daftar panjang angka pengangguran di Indonesia. Ironis!

PT memang acap dicibir sebagai lembaga yang menciptakan pengangguran. Hanya jor-joran di awal saat memikat calon mahasiswa, tapi tidak serius mencarikan solusi pekerjaan bagi para lulusannya. Sehingga begitu banyak sarjana yang diberitakan menganggur dan menjadi beban bangsa ini.

Sedangkan persoalan pengangguran sendiri tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran pada Februari 2013 mencapai 5,92 persen atau 7,17 juta orang. Jumlah ini berpotensi terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk usia produktif dari tahun ke tahun. Yang dimaksud dengan penduduk usia produktif adalah orang yang berusia antara 15-64 tahun.

Bahkan, pada tahun 2020 hingga 2030, kata Direktur Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Wendy Hartanto, akan terjadi “bonus demografi”. Yakni, kondisi dimana jumlah usia produktif meluber.

Bagaimana jadinya bila penduduk usia produktif yang meluber itu tidak diimbangi dengan kualitas SDM yang baik? Yang terjadi adalah pembelokan makna “bonus” demografi itu sendiri. Bukan “bonus” dalam makna yang positif tentunya, karena besar kemungkinan “bonus” yang terjadi adalah limpahan calon-calon pengangguran yang tidak mampu ditampung oleh industri atau dunia kerja.

Mengapa ini terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, belum semua penduduk usia produktif mendapat kesempatan bersekolah tinggi. Kedua, para penduduk usia produktif tidak memiliki pendidikan atau keahlian yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan kata lain ada gap yang besar antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar.

Solusi masalah pertama adalah perlunya komitmen pemerintah dan swasta memberi kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mencicipi bangku PT. Bentuk bantuan bisa berupa beasiswa, hibah, dan dana Corporate Social Responsibility (CSR), yang disalurkan melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Solusi masalah kedua, perlunya memberikan pemahaman pada masyarakat, khususnya lulusan SMA atau sederajat, tentang pentingnya memilih pendidikan berkonsep link and match. Yakni, konsep keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Konsep ini diyakini bisa menekan jumlah pengangguran dari lulusan perguruan tinggi.

 Pendidikan Vokasi Menekan Angka Pengangguran

Contoh nyata program pendidikan yang berkonsep link and match adalah program diploma. Tapi mengapa peminat program yang mendidik alumninya menjadi lulusan siap pakai ini tak sebanyak peminat program sarjana?

 Bagi sebagian masyarakat mungkin program diploma masih dipahami sebagai program non gelar. Sedangkan program sarjana dinilai lebih mantap karena ada embel-embel gelar bagi alumninya. Padahal sudah ada program D4 yang setara dengan sarjana di jalur profesional. Cuma masalahnya bila tidak ada embel-embel gelar baik di depan atau di belakang nama, rasanya kok belum menjual ya.

Faktor lain adalah minimnya informasi tentang program diploma. Sebagian malah mendefinisikan program diploma sebagai program 3 tahun. Padahal program diploma mencakup diploma 1, diploma 2, diploma 3, hingga diploma 4.

Sejatinya program diploma adalah bagian dari pendidikan vokasional, yakni jenis pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan keahlian, keterampilan, kemampuan, pemahaman, dan tingkah laku yang diperlukan dalam dunia kerja.

Dalam Undang-Undang Sikdiknas, pendidikan vokasional diperluas menjadi tiga jenis yaitu pendidikan kejuruan, vokasi dan profesional. Ketiganya sama-sama bertujuan menyiapkan peserta didik untuk bekerja pada bidang tertentu.

Pendidikan vokasi misalnya, menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara program sarjana. Sedang pendidikan profesional menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.

Dalam hal keahlian yang didapat alumninya jelas ada perbedaan mendasar antara pendidikan vokasional dan akademi. Keahlian lulusan pendidikan akademik ada pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan keahlian lulusan pendidikan vokasional pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Ini sebabnya lulusan pendidikan vokasional lebih mudah diserap pasar, dan seharusnya bisa menjadi solusi dalam menekan angka pengangguran.

Data di beberapa negara menunjukkan pendidikan vokasional sudah menjadi primadona. Sebut saja Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Australia. Dimana peminat masuk PT hanya sekitar 10 hingga 15 persen. Sisanya lebih memilih pendidikan vokasional.

Lalu, bagaimana cara agar pendidikan vokasi bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Pertama, harus ada sosialisasi yang terus menerus dari pemerintah dan swasta tentang pendidikan vokasi dan keunggulannya.

Kedua, harus ada komitmen lembaga pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan memperkuat sinergi dengan perusahaan atau dunia usaha dalam rangka penyaluran lulusannya.

Masih banyak masyarakat yang belum tahu bahwa perguruan tinggi negeri pun sudah membuka Program Vokasi. Seperti Universitas Indonesia (UI),  Universitas Airlangga (Unair), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Kehadiran Program Vokasi di sejumlah PTN bergengsi ini jelas menambah nilai jual dan kualitas pendidikan vokasi itu sendiri.

Kita menunggu lebih banyak komitmen dari PT swasta untuk membuka program vokasi dan meningkatkan kualitas pendidikannya. Mulai dari merekrut dosen yang memiliki kemampuan dan kecakapan di bidangnya, menyusun kurikulum yang terintegrasi sesuai dengan kebutuhan pasar, serta memperkuat kerjasama dengan perusahaan untuk program magang dan penempatan alumninya.

Dengan pemahaman yang makin baik dan komitmen PT untuk memberikan kualitas pendidikan terbaik, niscaya pendidikan vokasi dapat menjadi solusi penting untuk menekan angka pengangguran di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s