Anakku, Kehidupan Nyata Jauh Lebih Indah dari Cerita Sinetron

Sepulang kerja malam itu, belum sempat ku berganti baju, kau tiba-tiba masuk ke kamarku. Duduk di pinggir tempat tidur, hanya diam memandangku. Tak seperti biasa. Puteri kecilku yang lincah biasanya sangat ekspresif dan cerewet.

“Ada apa, Dek? Tumben nggak tanya ini itu,” godaku. Kau hanya menggeleng. Raut wajahmu kelihatan sedih.

Kau tiba-tiba menggamit lenganku. Kulihat, ada genangan air di sudut matamu.

Segera alarm diriku berderang dering. Wah, pasti ada sesuatu yang luar biasa, hingga puteriku yang ceria ini sampai menangis.

Kurangkul engkau. Kutatap matamu yang bening berkilau. “What’s wrong with you honey. Berceritalah pada mama..”

“Mama pasti capek ya…” hanya itu kata yang kau lontarkan.

“Oh, enggak. Mama nggak capek.” Aku merasa nada suaraku agak tinggi. Terlalu ingin terlihat bersemangat. Terlalu ingin menutupi bila tadi sore aku merasa agak lelah. Setelah hampir seharian berkeliling ke sekolah untuk pengajuan kerjasama, kakiku sempat keram. Tapi saat ini, di saat engkau memandangku dengan penuh selidik, aku membuang jauh rasa lelah itu.

“Aku tau mama capek. Makanya aku kasian sama mama. Tiap hari mama pulang malam terus.” Kau tiba-tiba menyatakan hal yang tidak pernah kau ucapkan sebelumnya.

Aku semakin yakin ada sesuatu yang terjadi pada dirimu hari ini. Entah itu di sekolah, di jalan, atau saat bermain dengan teman-temanmu tadi sore.

“Kenapa mama harus kerja? Kenapa engga seperti mama-mama lain yang di rumah saja nemani anak-anaknya.”

Aku mendongak. Kau tidak tersenyum. Kau malah terisak sekarang.

“Mama kan sudah sering cerita sama Adek alasan mama bekerja. Adek masih ingat nggak sama cerita mama,” aku bertanya sambil tetap tersenyum. Padahal hatiku mulai bergemuruh. Aku tak kuat melihat engkau menangis seperti itu.

“Ya karena papa sakit. Tapi kenapa papa harus sakit begitu lama mama, kenapa mama jadinya harus kerja keras setiap hari. Sabtu mama juga masuk. Kapan waktu untuk Adek?” Subhanallah. Engkau gadis kecilku yang lugu. Rasanya tak percaya kalimat itu yang justru kau pilih untuk diucapkan.

“Kenapa mama jadinya harus kerja keras setiap hari…..?” terngiang lagi kalimat itu di telingaku. Rasanya kalimat itu tidak murni datang dari si kecil yang baru berumur 9 tahun.

“Oh iya mama lupa, hari ini kan Adek nggak ada jadwal les ya? Wah asyik ….pasti sore tadi main terus ya? Sama siapa aja?” aku mengalihkan pertanyaan. Ingin tahu dengan siapa saja ia berinteraksi seharian ini. Ingin tahu dari manakah kira-kira kalimat itu berasal.

“Nggak main. Tadi aku ke rumah Iva, dia lagi berenang sama Saskia, diantar mamanya. Terus aku di rumah aja, nemenin embak nonton sinetron.”

Nonton sinetron….? Wah, jangan-jangan gundahmu malam ini bersumber dari tontonan di TV.

“Apa Dek yang menarik dari cerita sinetron tadi?” Aku mulai menyelidiki. Kau perlahan mulai biasa lagi. Tidak ada lagi air bening di pipi coklatmu.

“Cerita tentang mama-mama yang pergi-pergi terus sama anaknya. Enak Ma, anaknya jalan-jalan terus sama mamanya. Ke restoran, berenang, ke toko buku, terus ketemu sama teman-teman mamanya juga.”

Aku tersedak. Agak batuk-batuk kecil. Oh, kisah tentang mama-mama gaul ternyata. Like a sociable mother in general…

“Ih kasian ya anak itu. Kok dia nggak sekolah ya, jalan-jalan terus. Dia juga kok mau ya main terus sama mama-mama, bukannya lebih enak main sama anak-anak kecil juga….” aku meledeknya. Mencoba membuat kau tersenyum lagi. Atau tertawa. Aku selalu merindukan tawamu yang renyah itu.

“Tapi kan seneng maaaa…bisa jalan-jalan terus, bisa main-main terus!” Alih-alih tersenyum kau malah ngambek. Aku tersenyum.

Sambil duduk di sampingnya dan membelai-belai rambutnya aku bertanya. “Oh, Adek maunya jalan-jalan terus ya. Oke boleh-boleh aja. Gimana kalo kita susun jadwal sekarang yuk. Sekarang kan tgl 1. Gimana kalo Adek bikin jadwal selama satu bulan ini Adek mau pergi kemana saja. Nanti Mama akan kontak teman-teman Mama untuk mengatur jadwal jalan-jalan sebulan ini.”

Mata bulatmu bersinar. “Benar Ma? Adek boleh pergi jalan-jalan sebulan penuh?”

Aku mengangguk. “Ya. Tapi dengan syarat, harus buat daftarnya dulu, Dan daftarnya harus selesai dalam waktu setengah jam. Lewat dari itu Mama anggap Adek nggak serius pengen jalan-jalannya.”

“Siap Ma!” Kau langsung meloncat dari tempat tidur. Dan segera menghilang di balik pintu.

Setengah jam kemudian….

Aku baru selesai melipat mukena setelah shalat Isya, saat wajah bulatmu nongol di balik pintu. Kau tampak sumringah. “Mama aku sudah selesai buat daftar!”

Aku mengajaknya duduk di kursi dan mulai membaca daftar yang kau buat. Tapi sejurus kemudian aku terbengong-bengong. Karena daftar yang kau buat adalah daftar rencana bermain dengan trio Iva, Saskia, dan Olin, tetangga-tetangga cilikmu.

“Katanya mau pergi sama Mama-Mama. Kok malah nulis daftar liburan dengan trio kwek-kwek….?” aku menahan tawa yang hampir meledak.

“Adek pikir-pikir…nggak enak ah pergi sama mama-mama. Ngapain juga pergi sama orang dewasa. Mendingan aku main sama teman-temanku.” Kau berkata dengan gaya layaknya orang dewasa.

“Lho, tapi kan nanti Adek nggak ketemu Mama. Adek Cuma bisa main sama teman-temannya. Adek baru ketemu Mama lagi sudah malam. Nanti Adek kangen lagi sama Mama.”  Tanpa kau sadar aku masih terus menggoda.

“Kan aku bisa jalan sama Mama sabtu sore atau hari minggu,” engkau berkeras.

“Tapi kan hari minggu Mama harus memasak dan mengurus Papa. Nanti mama nggak ada waktu lho untuk bermain dengan Adek. Udah yuk, Adek bikin sekarang aja daftar rencana jalan-jalan sebulan sama Mama. Mama kasih waktu setengah jam lagi.”

Aku mengembalikan kertas berisi daftar itu. Kau tampak tercenung.

“Tapi Ma, kalo aku jalan-jalan sebulan sama Mama, nanti Mama jadi nggak kerja. Terus, kalo Mama nggak kerja nanti nggak punya uang. Kalo Mama nggak punya uang nanti aku nggak bisa sekolah. Ah… Adek nggak mau Ma…Adek pengen Mama kerja aja kayak biasa…Tapi hari Minggu tetap bisa jalan-jalan sama Adek…”

Aku pura-pura menunjukkan wajah bingung. “Lho, tadi kan Adek sendiri yang pengen kehidupan seperti di sinetron. Kok sekarang jadi berubah. Bukannya kehidupan di sinetron itu senang terus kan…”

“Nggak ah…Adek nggak mau kayak di sinetron. Lagian di sinetron kan Mama boongan. Adek hanya ingin Mama yang seperti Mama sekarang ini…” Kau lantas memelukku erat. Dan aku merasa terharu. “Janji ya…nggak suka ikutan embak nonton sinetron lagi!” Aku mencubit pipinya yang bulat.

Puteriku…kau bidadari kecil yang selalu menjadi bintang kehidupanku. Aku mencintai dunia kanak-kanakmu yang polos. Begitu penuh warna. Aku mencintai semua gayamu, kesalmu, protesmu, dan marahmu, sebagai bagian dari proses pendewasaan dirimu.

Suatu saat kau akan mengerti bahwa kehidupan nyata ini sangat indah. Jauh lebih indah dari kehidupan yang kau tonton di sinetron. Meskipun kadang sulit, kadang pahit, kadang terjatuh, dan kadang gagal, itu semua bumbunya kehidupan. Yang akan menjadi penyedap kelak, saat kita beroleh kesuksesan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s