Sampai Kapan Kita tidak (Mau) Peduli?

Butuh waktu lama dan kesabaran yang luar biasa untuk mengobati trauma dan luka batin anak-anak yang mengalami korban kekerasan.

Miris, geram, terluka. Itu yang saya rasakan saat membaca berita tentang siswa salah satu TK internasional yang menjadi korban kekerasan seksual. Miris, karena kejadian itu terjadi di sekolah, tempat yang sejatinya adalah lingkungan penuh cinta. Karena di sana ada sosok-sosok mulia, para guru yang sepenuh hati mendidik. Yang tak hanya mengajar pendidikan formal, tapi juga akidah, akhlak, dan budi pekerti mulia.

Sekolah yang seharusnya menjadi lingkungan paling menyenangkan setelah rumah, berubah menjadi tempat mengerikan. Setidaknya bagi bocah mungil itu, AK, yang tersakiti karena mengalami kekerasan seksual. Dia tak hanya sakit secara fisik, duburnya membusuk karena terinfeksi bakteri dan virus herpes. Tapi yang menyedihkan, batinnya sakit, akibat rasa takut luar biasa pada orang yang ia sebut “bapak dan mba”, yang sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada dirinya.

Terlepas dari siapa pelaku kejahatan seksual itu, yang konon adalah pegawai outsourcing, tetap terasa miris karena area kejahatan berada di sekolah. Bahkan menurut kuasa hukum korban, Andi M. Nasrun, diduga perbuatan itu terjadi lebih dari sekali. Begitu longgarnyakah pengawasan pihak sekolah hingga kejadian mengerikan itu bisa terjadi sana berulang kali?

Geram, karena kejadian itu menimpa AK, seorang bocah yang masih belia. Yang sejatinya masih butuh kasih sayang dan perlindungan dari orang dewasa. Tetapi mengapa ia justru diperlakukan semena-mena oleh manusia dewasa itu.

Terluka, pasti. Ibu mana yang rela anaknya menjadi korban kekerasan di lembaga pendidikan yang begitu mulia. Lembaga yang seharusnya amanah menjaga titipan orang tua untuk mendidik anak dengan cinta dan kasih. Yang bukan sekedar menjadi kolektor uang sekolah pada setiap awal tahun dan setiap bulannya.

Gundah rasanya mendengar begitu banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan sekolah. Tahun 2013 lalu misalnya tersiar kasus pelecehan seksual seorang siswi sebuah SMP di Jakarta Pusat yang dilakukan teman sekolahnya. Yang mengenaskan, adegan pelecehan seksual itu direkam dengan ponsel dan beredar di kalangan siswa. Atau kasus seorang siswi SMU di Jakarta Timur yang mengaku dicabuli Wakil Kepala Sekolahnya. Menyusul kasus pelecehan seksual siswa kelas 6 SD oleh gurunya sendiri. Mungkin banyak kasus lainnya yang tak terungkap ke publik. Tapi sejauh mana kasus itu ditindaklanjuti dengan ketentuan sebenarnya? Tak jarang kasus diselesaikan secara tertutup atau memang ditutup karena polisi memang tak menemukan cukup bukti untuk menjerat tersangka.

Tidak banyak juga orang tua yang mau terbuka mengungkap kasus kekerasan seksual di sekolah karena berbagai pertimbangan. Rasa malu, takut, bingung mau mengadu ke mana adalah sejumlah alasan yang menjadikan orang tua enggan mengungkap kasus-kasus sejenis.

Bila demikian, bagaimana masyarakat bisa belajar untuk lebih peduli? Bagaimana pihak sekolah bisa teredukasi untuk membuat rambu perlindungan bagi anak didiknya? Karena, sesuai UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sekolah seharusnya memiliki rambu-rambu yang jelas, yang harus dipatuhi oleh seluruh elemen pendidikan di sekolah untuk menjaga hak anak-anak.

Dari kasus yang menimpa AK ini pun kita belajar bahwa sekolah tak pernah belajar untuk berani melakukan evaluasi dan koreksi total. Entah memang sengaja belum bersuara untuk melakukan konsolidasi di dalam sebelum mengeluarkan senjata pembelaan. Yang pasti hanya pihak-pihak tertentu yang sudah berkomentar. Komisi Perlindungan Anak Indonesia, polisi sebagai pihak yang telah menerima laporan, dan pihak depdikbud yang baru sebatas mempelajari masalah.

Bagaimana kepedulian para figur masyarakat yang kemarin banyak berkoar menjelang Pemilu Legislatif? Bagaimana pula pendapat dari anggota DPR yang terhormat? Belum terdengar hingga hari ini. Dan inilah memang potret sebagian anak bangsa yang lebih peduli dengan kasus yang melibatkan orang dewasa, ketimbang anak. Makhluk kecil itu, manusia yang bukanlah “orang dewasa kecil”, tapi adalah anak dengan segala karakteristiknya.

Sampai kapan kita tidak mau peduli dengan permasalahan mereka? Pada upaya untuk memberikan perlindungan dan kasih sayang terbaik untuk mereka. Pada upaya untuk menjadikan mereka generasi berkualitas yang kuat jiwa dan raganya. Padahal di tangan merekalah nasib bangsa ini akan kita titipkan…nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s