Berniat Menjadi Perempuan Lebih baik

(Belajar dari Tiga Perempuan Berhati Malaikat….)

Hari masih pagi sekali. Aku baru selesai mandi. Baru saja menggantung handuk di rak jemuran saat suara handphone berdering. Suara di ujung telepon itu membuatku terpana. Suara yang mungkin sudah tak pernah kudengar sejak 15 tahun lalu.

Dia Grace, teman kuliahku dulu. Menyapaku dengan hangat dan riang. Aku kaget dan sangat gembira. “Grace….ya ampuuuun! kamu kemana saja? Sekarang kamu kerja dimana? Anakmu sudah berapa?” Percakapan basa basi, layaknya sahabat yang lama tak bersua. Tapi basa basi itu tak berlangsung lama. Karena sekejab kemudian Grace langsung to the point menjelaskan alasan, mengapa ia meneleponku.

“Aku dengar anakmu sakit?” tanya Grace hati-hati. “Aku khawatir dia dirawat. Sekarang gimana kondisinya?” Aku tercekat. Darimana Grace tahu anakku sakit? Meneleponku saja baru sekarang, setelah terpisah berbelas tahun.

“Aku ada titipan ya untuk anakmu. Aku transfer semalam ke rekeningmu. Semoga dia lekas sehat lagi,” kata Grace. Terasa betul nada suaranya diatur lebih pelan, mungkin khawatir kata-katanya membuatku tersinggung. Dan aku semakin terpana. Bingung. Bagaimana pula Grace tahu nomor rekeningku. Seingatku, aku tak pernah memasang iklan permintaan dana di semua koran dan media sosial.

Keep fighting dear, kamu harus tahu, kami semua sayang kamu,” Grace menutup telepon diiringi titik air mata dipipiku. Kutaruh handphone di meja, bersiap untuk sarapan pagi. Tapi kuurungkan niatku, saat membaca info ada beberapa sms yang belum terbaca. Wah, ternyata ada 4 sms belum terbaca. Siapa sih yang rajin kirim sms sejak pagi?

Sms pertama kubaca, dan aku tercekat. Sms kedua, ketiga, dan keempat, isinya senada dengan sms pertama. Keempat pesan itu datang dari teman-teman kuliah di masa lalu. Intinya mereka mendoakan anakku supaya lekas sembuh. Dan di ujung pesan mereka menekankan sudah mengirim sejumlah tanda cinta ke rekeningku.

Hingga siang aku masih bertanya-tanya gerangan apa yang terjadi hari ini. Saat menyuapi Aliyya kecilku, meminumkan obat, dan menemaninya tidur kembali, aku melakukannya sambil merenung. Siapa yang bersusah payah beriklan ke semua teman kuliah untuk mengabarkan buah hatiku yang sakit? Malaikatkah dia? Atau si peri kecil yang kemarin hinggap di batang pohon di depan rumah?

Menjelang sore barulah jawaban itu terkuak. Devie, teman kuliahku juga, meneleponku untuk menanyakan apakah aku sudah ke ATM untuk mengecek saldo rekeningku. “Ada titipan ya sayang, dari teman-teman angkatan kita. Cek deh, dan tolong kabari kalo kamu sudah terima.”

Kali ini aku tak perlu berbasa basi lagi. Kepada sahabatku itu aku mendesak bertanya, siapa gerangan yang mengabarkan anakku sakit dan berinisiatif menggalang dana untukku. Dia dengan ringan menyebut satu nama. “Mba Nina yang mengabarkan Aliya sakit. Dan dia bbm kami untuk segera bantu kamu.”

Aku tercekat. Ya, dua hari lalu aku bercerita pada beliau tentang sakit anakku. Itu sekedar mengabarkan, karena sakitnya si kecil membuatku tak bisa mengikuti sit-in class di beberapa kuliah yang beliau pegang. Aku sedang magang mengajar, dan beliau sangat welcome membagi ilmu mengajarnya padaku. Tak menyangka, kalau beliau memforward pesan itu ke hampir semua teman kuliahku.

Sosok Berhati Malaikat itu Memang Ada

Mba Nina, lengkapnya Nina Mutmainah. Dia tak hanya mantan dosenku. Tapi sudah menjadi sahabat sekaligus kakak bagiku. Dari beliau aku belajar banyak untuk menjadi seseorang yang bermakna. Bermakna bagi keluarga, bagi teman, bagi lingkungan, bagi siapapun, dalam berbagai wujud dan definisinya.

Aku terharu. Karena mba Nina selalu ada di setiap saat aku membutuhkan bantuan. Dengan berbagai cara yang ia lakukan, seolah selalu ingin menunjukkan kalau dia sangat menyayangiku. A friend indeed is a friend in need. Ketulusan yang Mba Nina berikan sering membuatku terharu. Kadang tak percaya ada makhluk Tuhan yang selalu menolong tanpa pamrih. Tapi faktanya, malaikat itu memang ada. Seolah Tuhan memang mengutusnya untuk menebar kebaikan .

Malaikat seperti mba Nina tak hanya ada nun jauh di Depok. Di tengah bisingnya ibukota, di sebuah gedung tinggi di kawasan SCBD, makhluk berhati malaikat itu juga ada. Dia seorang perempuan sederhana, tapi sangat komplit wawasannya. Luviana Ariyanti namanya.

Aku biasa memanggilnya mba Luvi. Mantan reporter sebuah TV swasta. Aktivis LSM yang sangat aktif memperjuangkan hak kaum perempuan. Belum dua tahun saya mengenalnya. Saat ini kami sama-sama menjadi fellowship student di sebuah kampus bergengsi di kawasan Sudirman.

Meski baru bersahabat kurang dari 24 bulan, tak berarti interaksi kami kehilangan makna. Mba Luvi sangat rajin mengajakku bergabung ke komunitasnya. Dia mengenalkanku pada teman-temannya yang multi-kultural. Tanpa sadar, ia sudah mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih toleran. Untuk peduli dan cinta pada semua makhluk Tuhan tanpa kecuali. Tanpa saling bermusuhan, tanpa saling menyimpan dendam.

Sebagai aktivis yang sering diundang menjadi pembicara dan moderator acara, Mba Luvi sering tak mengambil honornya. Honor itu ia kembalikan ke panitia untuk menjadi kas panitia. Kalaupun terpaksa mengambil honor, seringkali honor itu ia berikan lagi pada orang lain yang ia nilai lebih membutuhkan.

Meski tidak hidup terlalu berkecukupan, mba Luvi tak pernah pusing bila tak ada uang. Bahkan, di saat kantongnya pas-pasan pun, dia masih memikirkan orang lain yang dinilainya jauh lebih membutuhkan pertolongan.

Pernah suatu hari, saat anakku sakit, seorang teman menyampaikan simpatinya melalui pesan di grup whatsapp. Mba Luvi yang membaca pesan itu akan sekonyong-konyong meneleponku segera. “Mba, gimana kabar anakmu? Sabar ya mba. Aku ada titipan sedikit ya untuk Aliya.” Bahkan mungkin saat Aliya hanya sakit flu pun dia tetap merasa perlu untuk menyampaikan bahwa dia peduli padaku.

Dia menunjukkan empati yang sangat besar ketika aku tersangkut masalah dengan sebuah proyek buku. Dia mengerti sekali bahwa penyelesaian buku yang berlarut-larut itu membuat pembayaran mandeg. Dan kasus ini tak hanya membuat lelah fisikku, tapi juga batinku. Dan mba Luvi tahu betul bagaimana mengangkat semangatku yang kedodoran. Dia bahkan mengirimkan contoh makalah untuk melengkapi tugas ujian, karena dia tahu aku sudah sangat lelah dengan pekerjaan kantor dan proyek yang terkatung-katung. “Mba, baca paperku. Kutiplah apa yang bisa dikutip untuk papermu. Aku tahu kamu sudah lelah seminggu ini,” katanya di pesan singkatnya.

Mba Luvi hanya segelintir orang yang tidak pernah lelah membantu orang lain. Aku belajar banyak darinya bagaimana menjadi pribadi yang lebih empati. Tapi aku sadar, hingga saat ini pun, aku masih belum bisa menjadi pribadi yang tulus seperti dia.

Saat ini, malam semakin larut. Satu jam lagi, aku akan menatap hari baru di tahun 2015. Aku masih terus bermimpi untuk menjadi perempuan yang lebih baik. Seperti mba Nina, seperti mba Luvi, dan seperti Devie.

Devie Prayogo, teman kuliahku dulu. Adalah salah satu sosok lain perempuan yang berhati malaikat. Dari Devie aku belajar banyak untuk menjadi pribadi yang sangat mencintai keluarga. Di tengah keterbatasan waktunya sebagai ibu rumah tangga dan koresponden sebuah media online, dia selalu menyisihkan waktu semaksimal mungkin untuk orang tercintanya, suami dan putri tunggalnya.

Dari Devie aku juga belajar menjadi pribadi yang care pada semua orang tanpa kecuali. Devie adalah satu dari segelintir teman angkatanku yang sangat aktif memberi informasi seputar teman-teman kuliah. Entah itu tentang si A yang sakit, si B ibunya meninggal, si C diangkat jadi staf ahli, si D mengundang acara hala bil halal, dan lain sebagainya. Devie selalu menjadi salah satu figur utama yang menjadi panitia acara angkatan, dan menginisiasi berbagai bantuan untuk teman-teman yang sakit atau mengalami musibah.

Dari mba Nina, mba Luvi dan Devie, aku belajar satu hal. Bahwa kita tak boleh lelah untuk menebar kebaikan, dimana saja, dan kepada siapa saja. Sebab, banyak orang yang membutuhkan kebaikan itu, apapun bentuk dan jenisnya.

Aku berniat menjadi perempuan yang lebih baik di tahun 2015. Setidaknya, menjadi orang yang lebih peduli pada orang lain. Lebih empati pada setiap orang dan bisa berbagi kepada mereka, walau dalam bentuk yang paling minimal sekalipun.

Tidak mudah menjadi orang yang berhati malaikat. Tapi aku percaya, mereka ada. Dan aku bahagia, Allah sudah mempertemukanku dengan mereka. Para perempuan bersahaja, tapi kaya kasih dan cinta.

Dan aku ingin menjadi seperti mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s