PENDIDIKAN VOKASI, SOLUSI MENEKAN ANGKA PENGANGGURAN

 by Umniyati Kowi

Belum banyak yang memahami pentingnya pendidikan vokasi sebagai sarana mendidik mahasiswa siap pakai yang dibutuhkan industri dan dunia kerja.

 Usai sudah pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013 yang berlangsung serentak mulai 18 Juni lalu. Dimulai dengan ujian tulis pada 18 dan 19 Juni, disusul ujian ketrampilan yang diadakan pada dua hari berikutnya.

Kini, lebih dari 590 ribu peserta harap-harap cemas. Mereka yang baru saja berjuang memperebutkan 90 ribu kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbagi menjadi dua kelompok: optimis dan pesimis. Yang optimis percaya penuh akan mendapatkan satu jatah di PTN. Dan yang pesimis sudah jelas menyiapkan ancang-ancang bila gagal di SBMPTN.

Dari ribuan kelompok mahasiswa yang pesimis ini belum semuanya punya gambaran atau visi dalam memilih sekolah. Terkadang mereka hanya ikut-ikutan teman, atau hanya asal memilih yang penting kuliah. Ketidaktahuan tersebut bisa jadi karena beberapa faktor, sibuk sekolah, kurangnya penjelasan dari pihak sekolah, atau akses informasi yang terbatas.

Yang umumnya mereka tahu adalah tersedianya dua jenjang pendidikan di perguruan tinggi (PT), yakni jenjang diploma (D3) dan sarjana (S1). Tetapi tak semuanya paham apakah perbedaan signifikan antara kedua jenjang pendidikan itu dan cakupan pengajarannya.

Mungkin karena soal ketidaktahuan itu, atau karena mereka lebih memburu titel alias gelar sarjana, peminat program sarjana jauh lebih banyak ketimbang diploma. Seorang konsuler pendidikan pernah menyatakan, 6 dari 10 orangtua lebih menganjurkan anaknya masuk universitas yang memberikan gelar sarjana ketimbang memilih pendidikan yang hanya memberikan keahlian khusus.

Inilah kondisi riil yang menjadi fenomena dunia pendidikan Indonesia saat ini.  Banyak lulusan SMA atau sederajat memilih kuliah di PT yang memberi gelar sarjana untuk meningkatkan status sosial. Meskipun setelah lulus mereka tidak tertampung pasar dunia kerja. Dan hanya menambah daftar panjang angka pengangguran di Indonesia. Ironis!

PT memang acap dicibir sebagai lembaga yang menciptakan pengangguran. Hanya jor-joran di awal saat memikat calon mahasiswa, tapi tidak serius mencarikan solusi pekerjaan bagi para lulusannya. Sehingga begitu banyak sarjana yang diberitakan menganggur dan menjadi beban bangsa ini.

Sedangkan persoalan pengangguran sendiri tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran pada Februari 2013 mencapai 5,92 persen atau 7,17 juta orang. Jumlah ini berpotensi terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk usia produktif dari tahun ke tahun. Yang dimaksud dengan penduduk usia produktif adalah orang yang berusia antara 15-64 tahun.

Bahkan, pada tahun 2020 hingga 2030, kata Direktur Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Wendy Hartanto, akan terjadi “bonus demografi”. Yakni, kondisi dimana jumlah usia produktif meluber.

Bagaimana jadinya bila penduduk usia produktif yang meluber itu tidak diimbangi dengan kualitas SDM yang baik? Yang terjadi adalah pembelokan makna “bonus” demografi itu sendiri. Bukan “bonus” dalam makna yang positif tentunya, karena besar kemungkinan “bonus” yang terjadi adalah limpahan calon-calon pengangguran yang tidak mampu ditampung oleh industri atau dunia kerja.

Mengapa ini terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, belum semua penduduk usia produktif mendapat kesempatan bersekolah tinggi. Kedua, para penduduk usia produktif tidak memiliki pendidikan atau keahlian yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan kata lain ada gap yang besar antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar.

Solusi masalah pertama adalah perlunya komitmen pemerintah dan swasta memberi kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mencicipi bangku PT. Bentuk bantuan bisa berupa beasiswa, hibah, dan dana Corporate Social Responsibility (CSR), yang disalurkan melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Solusi masalah kedua, perlunya memberikan pemahaman pada masyarakat, khususnya lulusan SMA atau sederajat, tentang pentingnya memilih pendidikan berkonsep link and match. Yakni, konsep keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Konsep ini diyakini bisa menekan jumlah pengangguran dari lulusan perguruan tinggi.

 Pendidikan Vokasi Menekan Angka Pengangguran

Contoh nyata program pendidikan yang berkonsep link and match adalah program diploma. Tapi mengapa peminat program yang mendidik alumninya menjadi lulusan siap pakai ini tak sebanyak peminat program sarjana?

 Bagi sebagian masyarakat mungkin program diploma masih dipahami sebagai program non gelar. Sedangkan program sarjana dinilai lebih mantap karena ada embel-embel gelar bagi alumninya. Padahal sudah ada program D4 yang setara dengan sarjana di jalur profesional. Cuma masalahnya bila tidak ada embel-embel gelar baik di depan atau di belakang nama, rasanya kok belum menjual ya.

Faktor lain adalah minimnya informasi tentang program diploma. Sebagian malah mendefinisikan program diploma sebagai program 3 tahun. Padahal program diploma mencakup diploma 1, diploma 2, diploma 3, hingga diploma 4.

Sejatinya program diploma adalah bagian dari pendidikan vokasional, yakni jenis pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan keahlian, keterampilan, kemampuan, pemahaman, dan tingkah laku yang diperlukan dalam dunia kerja.

Dalam Undang-Undang Sikdiknas, pendidikan vokasional diperluas menjadi tiga jenis yaitu pendidikan kejuruan, vokasi dan profesional. Ketiganya sama-sama bertujuan menyiapkan peserta didik untuk bekerja pada bidang tertentu.

Pendidikan vokasi misalnya, menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara program sarjana. Sedang pendidikan profesional menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.

Dalam hal keahlian yang didapat alumninya jelas ada perbedaan mendasar antara pendidikan vokasional dan akademi. Keahlian lulusan pendidikan akademik ada pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan keahlian lulusan pendidikan vokasional pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Ini sebabnya lulusan pendidikan vokasional lebih mudah diserap pasar, dan seharusnya bisa menjadi solusi dalam menekan angka pengangguran.

Data di beberapa negara menunjukkan pendidikan vokasional sudah menjadi primadona. Sebut saja Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Australia. Dimana peminat masuk PT hanya sekitar 10 hingga 15 persen. Sisanya lebih memilih pendidikan vokasional.

Lalu, bagaimana cara agar pendidikan vokasi bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Pertama, harus ada sosialisasi yang terus menerus dari pemerintah dan swasta tentang pendidikan vokasi dan keunggulannya.

Kedua, harus ada komitmen lembaga pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan memperkuat sinergi dengan perusahaan atau dunia usaha dalam rangka penyaluran lulusannya.

Masih banyak masyarakat yang belum tahu bahwa perguruan tinggi negeri pun sudah membuka Program Vokasi. Seperti Universitas Indonesia (UI),  Universitas Airlangga (Unair), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Kehadiran Program Vokasi di sejumlah PTN bergengsi ini jelas menambah nilai jual dan kualitas pendidikan vokasi itu sendiri.

Kita menunggu lebih banyak komitmen dari PT swasta untuk membuka program vokasi dan meningkatkan kualitas pendidikannya. Mulai dari merekrut dosen yang memiliki kemampuan dan kecakapan di bidangnya, menyusun kurikulum yang terintegrasi sesuai dengan kebutuhan pasar, serta memperkuat kerjasama dengan perusahaan untuk program magang dan penempatan alumninya.

Dengan pemahaman yang makin baik dan komitmen PT untuk memberikan kualitas pendidikan terbaik, niscaya pendidikan vokasi dapat menjadi solusi penting untuk menekan angka pengangguran di Indonesia.

“Belajar” Saat Liburan Sekolah, Kenapa Tidak?

Libur tlah tiba…libur tlah tiba… hore..hore…hore…

Guys, sekarang sudah ga ngetren lagi lho liburan ke pantai atau puncak. Banyak pelajar yang lebih suka mengisi liburan sekolah dengan belajar di pusat kursus. Ada yang belajar bahasa asing, komputer, melukis, atau musik. Jadi, selepas liburan mereka tak hanya fresh, tapi juga tambah ilmu. Keren kan!

Fenomena belajar saat liburan ini bikin sejumlah kursus atau lembaga pendidikan banjir peminat. Tak jarang pelajar sudah “pesan tempat” jauh hari sebelum masa liburan. Pihak kursus pun tak kalah kreatif, misalnya meramu Program Liburan dengan Program Reservasi alias Pesan Tempat. Jadi, baik pelajar dan pusat kursus sama-sama untung.

Program liburan ini misalnya digarap LP3I Course Center (LCC) cabang Lippo Cikarang. Pusat kursus dan bimbel ini menawarkan program bundling (satu paket) untuk program reservasi dan liburan. Intinya, setiap siswa Bimbel yang ingin lanjut kursus di semester depan langsung tercatat sebagai peserta program liburan.

Materi program liburan di LCC Lippo Cikarang ini belajar Matematika dan Bahasa Inggris. Lho kok belajar? Bukannya ini liburan? Mungkin itu ya yang jadi pertanyaan kalian. Tapi jangan salah….materi yang dibahas ga berat kok. Materi untuk matematika berupa pengenalan teknik hitung cepat, games matematika, dan buka kunci. Sedang untuk bahasa Inggris kamu dilatih membuat pidato dan berpidato dalam bahasa Inggris.

Lain lagi yang dilakukan HelloMotion. Ini pusat kursus animasi yang akan ngajarin kamu membuat program animasi. Ada banyak lho yang bisa kamu pelajari. Mulai dari Animasi 2D, 3D, motion graphic, editing animasi dan desain grafis. HelloMotion sudah menggelar program liburan sejak bulan lalu, dan akan berlangsung hingga Juli 2013.

Lembaga Azka Counseling juga tidak mau ketinggalan. Pusat bimbel ini khusus menyediakan guru-guru privat selama liburan. Jadi, kamu bisa mencuri start dengan belajar lebih dulu materi pelajaran semester ganjil dibanding teman-temanmu. Jadi so pasti kamu tambah percaya diri saat masuk tahun ajaran baru nanti. Seru kan!

Ada lagi yang ga kalah seru. Namanya Program Kampung Inggris yang digagas Eureka Tour. Target acara ini mahasiswa dan umum. Program Kampung Inggris ini adalah paket belajar Bahasa Inggris ke kampung Inggris di Pare Kediri Jawa Timur dengan durasi 1 bulan. Wah kebayang kan asyiknya?

Disana seluruh peserta harus menggunakan bahasa Inggris aktif selama program. Materi yang didapat adalah speaking sebanyak  2x pertemuan setiap hari, yakni di pagi hari setelah Subuh dan malam hari setelah Isya. Serunya lagi, peserta mendapat tambahan tour ke Bromo.

So, tunggu apa lagi. Biar ga ketinggalan, cari tau segera info Program Liburan di Pusat Kursus atau Lembaga Pendidikan terdekat. Selamat berlibur!

Membaca, I Love It!

Bacalah, di mana saja, kapan saja, dan dari sumber apa pun.

Andaikan buku itu sepotong pizza. Hhmm… pasti terbayang kan lezatnya. Aromanya yang menggugah selera, toppingnya yang beraneka…wah belum menyantap saja lidah kita sudah asyik bergoyang.

Itulah hebatnya Hernowo. Penulis buku “Andaikan Buku itu Sepotong Pizza” tak hanya piawai membuat judul, tapi juga ahli meracik isinya. Bukunya tak hanya berisi teks yang mengalir, tapi juga dibumbui gambar dan pemetaan yang mudah diingat. Membuat kita tak ingin berhenti untuk terus dan terus membaca.

Andaikan semua penulis seperti Hernowo. Mungkin anak-anak Indonesia akan sangat gemar membaca buku. Sama gemarnya mereka dengan pizza, burger, coklat, permen atau es krim.

Tapi sayangnya, anak-anak Indonesia sekarang lebih suka main games. Termasuk juga anak saya. Wah, luar biasa ragam permainan online tersedia untuk anak lelaki dan perempuan. Ada Dekorasi Es Krim, Beruang Teddy, Salon Hewan, Dandan Hamster Imut, atau Calon Bintang K-Pop untuk anak perempuan. Ada Monster Master, Pet Soccer, dan Anime Fighting Jam untuk anak lelaki. Semua bisa di download gratis dari internet.

Mengapa anak-anak lebih keranjingan main games daripada membaca? Mengutip info dari www.intisari-online.com, penyebab anak tidak mau membaca adalah komputer dan games. Ini hasil penelitian researcher dari Gothenburg University Swedia yang meneliti minat baca anak usia 9 dan 10 tahun di beberapa negara.

“Anak-anak lebih suka bermain komputer, dan ini berpengaruh pada penurunan ketertarikan anak-anak dalam membaca,” kata Profesor Monica Rosen, pemimpin penelitian itu.

Wah, kemajuan teknologi di satu sisi memang berguna. Tetapi disisi lain tetap saja ada implikasinya. Salah satunya yang disebutkan Profesor tadi, bahwa anak-anak lebih memilih bermain komputer ketimbang membaca.

Tren saat ini juga menunjukkan bahwa budaya membaca, khususnya membaca buku, bukanlah hal yang populer bagi sebagian anak dan remaja Indonesia. Bagi mereka, mengakses informasi tak selalu harus dari buku. Boleh jadi, fenomena maraknya situs jejaring sosial yang menjadi penyebab perubahan orientasi dalam mengakses informasi. Sekarang anak-anak dan remaja lebih memilih Facebook atau Twitter sebagai media untuk saling bertukar informasi tentang apapun.

Menyedihkan? Tentu tidak. Justru, semakin banyak kemudahan dalam mengakses informasi adalah anugerah. Sebagai orang tua kita pun selayaknya tidak menafikan perkembangan tekonologi. Karena dengan mengenalnya kita bisa membantu memandu anak-anak kita untuk berinternet secara sehat.

Fenomena e-Book

Buku adalah jendela dunia. Ini mazhab yang sudah bertahun-tahun kita yakini. Buku adalah kunci untuk membuka pintu dunia informasi.

Masalah adalah, mengapa buku kurang diminati?

Banyak faktor penyebabnya. Pertama, harga buku-buku bagus tidak murah. Hanya sebagian kalangan yang bisa menjangkaunya. Kedua, tidak banyak buku yang temanya bagus, alur ceritanya mengalir, dan inspiratif. Dari sekian banyak novel yang ada, tak semuanya semenarik buku-buku Harry Potter, Tetralogi Laskar Pelangi, The Da Vinci Code, The Kite Runner, The Lord of the Rings, atau A Tale of two Cities. Dari semua buku biografi yang ada, tak banyak yang sehebat Biografi Steve Jobs, atau buku-buku biografi karya Alberthiene Endah.

Bila pun ada buku-buku yang menarik dan berkualitas, harganya dijamin tidak murah. Jadi, persoalan tetap berputar di dua masalah klasik di atas.

Karena itu, beruntung sekali kita karena saat ini sudah mulai marak fenomena E-book (Electronic Book) atau buku elektronik. Inilah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronis melalui komputer. E-book ini berupa file dengan format bermacam-macam, ada yang berupa pdf yang bisa dibuka dengan program Acrobat Reader, ada juga dengan format htm yang dapat dibuka dengan browsing atau internet eksplorer secara offline, dan ada yang dalam format exe.

Fenomena E-book dan media online, termasuk situs jejaring sosial, memperkaya khasanah perbukuan kita. Patut kita syukuri. Karena toh upaya mencerdaskan kehidupan bangsa bisa bersumber dari media apapun, tanpa kecuali. Hanya butuh kearifan untuk memilah-milah sumber informasi terbaik yang layak untuk kita akses.

So, bacalah buku di mana saja, kapan saja, dan dari mana saja.

I love reading!

Memaafkan itu Memperbaiki Rejeki

Sepintas memang tidak ada hubungan antara memaafkan dan rejeki. Tapi jiwa yang pemaaf menjadi lebih tenang, lebih bersemangat, dan lebih bahagia.

Sebuah tweet di @pemulihanjiwa sungguh menggugah hati: Memaafkan itu bukan untuk orang lain. Memaafkan adalah untuk dirimu sendiri.

Kok bisa ya? Kita kan memaafkan kesalahan orang lain yang kita anggap bersalah kepada kita. Tapi mengapa justru maaf tersebut bermanfaat bagi diri kita sendiri?

Itulah dahsyatnya memaafkan.

Pernah, dalam salah satu sessi pelatihan di sebuah Lembaga Pendidikan, saya merasakan indahnya memaafkan.

Saat itu di akhir sessi, sang Dosen mengajak kami sekelas untuk menuliskan nama-nama orang yang selama ini masih belum bisa kita maafkan. “Tuliskan nama mereka, bacakan nama mereka dan maafkan mereka dengan ikhlas,” katanya.

Kata Dosen tersebut, jika kita benar-benar ikhlas memaafkan semua orang yang bersalah terhadap kita, maka dalam waktu dekat kita akan mendapatkan keberkahan yang luar biasa. “Tunggulah beberapa waktu ke depan. Akan ada kejadian luar biasa yang Anda dapatkan,” katanya.

Saya saat itu sempat menyebutkan beberapa nama yang ingin saya maafkan. Maka, dengan penuh rasa ingin tahu saya pun menunggu, gerangan hal hebat apa yang akan saya jumpai.

Satu hari berlalu tanpa ada hal luar biasa. Begitu pula esok harinya. Lusanya pun demikian. Tapi apa yang terjadi satu minggu kemudian….? Ternyata saya sakit…flu berat…dan hampir sulit bangun dari tempat tidur.

Di tengah rasa sakit yang mendera, saya mendapat perhatian luar biasa dari seorang teman. Saya yang saat itu tinggal di sebuah rumah kos, ditolong seorang teman yang sangat baik dan penuh perhatian. Hampir setiap saat dia datang ke kamar saya, membawakan minum, makanan kecil, menawarkan pengobatan herbal, dan juga menghibur.

Teman kos yang penuh perhatian itu dari hari ke hari menjadi sahabat yang penuh pengertian dan sangat penolong. An friend indeed is a friend in need. Dia kerap menjadi solutor dari permasalahan saya.

Hingga suatu ketika saya pun teringat pada pesan sang Dosen yang pernah mengajarkan terapi maaf. “Tunggulah beberapa waktu ke depan. Akan ada kejadian luar biasa yang Anda dapatkan.”

Apakah kejadian luar biasa itu adalah hadirnya sahabat sejati yang begitu menyayangi saya seperti terhadap saudaranya sendiri? Entahlah. Bisa jadi, itu salah satunya.

Kurang lebih dua minggu lalu saya mengikuti training yang dipandu Dedy Susanto, salah seorang motivator idola saya. Dalam salah satu sessi training beliau mengajarkan kami terapi maaf. “Maafkanlah semua orang yang pernah bersalah kepada Anda. “Tuhan tidak mau umatnya saling membenci. Ikhlaskan dan maafkan. Maka tunggulah. Pasti rejekimu menjadi lebih baik.”

Rejeki itu, kata Dedy, tidak selalu berwujud uang. Tapi bisa berwujud ketenangan, keberkahan, dan kemudahan.

Maka dengan penuh khusyuk dan keikhlasan saya tuliskan lagi nama-nama orang yang belum bisa saya maafkan. Lalu saya ucapkan dengan lirih kepada nama-nama tersebut…saya maafkan kalian… saya ikhlas memaafkan kalian…

Beberapa hari selesai training anak saya menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS). Saya kembali H2C alias harap-harap cemas yang luar biasa. Entah mengapa setiap anak saya menjalani UAS, saya yang uring-uringan dan stress menunggu hasilnya. Anak saya yang masih duduk di bangku SD memang tidak hobby belajar. Bila pun membuka buku dia hanya membaca sesekali, dan setiap sepuluh menit minta break untuk bermain.

Tapi apa yang terjadi di hari pertama UASnya. Saat saya pulang kantor dia menyambut saya dengan ceria dan menyatakan “Mama… tadi aku bisa ulangan matematika!”. Alhamdulillah… Hampir tak percaya mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut si kecil. Biasanya dia selalu datang ke saya dengan ucapan…”Susah Ma tadi ulangannya…”

Selama hampir seminggu menjalani UAS anak saya tampak percaya diri dan bersemangat. Sungguh ajaib. Saya merasa takjub dan bersyukur. Inikah anugerah yang luar biasa itu?

Beberapa hari lalu saya dikejutkan oleh tawaran pekerjaan dari dua tempat berbeda. Meskipun belum merespon tawaran tersebut, dan masih akan mempertimbangkannya lebih lanjut, saya bersyukur masih ada yang menawari saya pekerjaan baru. Inikah keberkahan itu? Wallahu a’lam.

Saya masih terus menunggu berkah dan anugerah apa lagi yang akan terjadi… tentunya tetap dengan H2C alias harap-harap cemas…

Kamu Penting dan Berharga

Bila kita merasa diri penting dan berharga, masalah sebesar apa pun tidak akan pernah mengusik kita.

Mulai saat ini Anda harus menyadari betapa Anda sangat penting dan berharga. Itu salah satu pesan Dedy Susanto, terapis dan pakar motivasi, yang ia sampaikan pada salah satu training yang saya ikuti. Sangat membekas dan inspiratif.

Mengapa harus menjadi orang penting? Karena, bila kita merasa diri kita penting, semua masalah di luar kita menjadi tidak penting. Bila kita sudah menganggap semua masalah tidak penting, maka tidak ada satu masalah pun yang akan mengusik kebahagiaan kita.

Contoh paling gampang adalah, ketika di kantor banyak orang sedang menggunjingkan kita karena tiupan isu dari seseorang. Kemana saja kita melangkah seolah semua mata menatap kita seperti sampah. Kita menjadi tertuduh tanpa tahu apa yang orang permasalahkan.

Tapi karena kita merasa diri penting, kita tidak peduli dengan perlakuan orang terhadap kita. Kita tetap merasa santai dan tidak terusik karena kita memang tidak  merasa bermasalah dengan orang lain.

Lalu, dengan prinsip tersebut apakah kita lantas merasa cuek dengan segenap persoalan di sekeliling kita? Tidak juga harus begitu. Karena bila demikian sama saja kita menumpuk masalah kita sendiri.

Yang terbaik adalah, kita menyikapi dengan kepala dingin. Ketika kita difitnah oleh seseorang, selidiki dulu akar masalah sesungguhnya. Ada banyak alasan yang menyebabkan ia memfitnah kita. Alasan pertama, bisa jadi karena ia marah dengan sikap kita terhadapnya dan ingin membalas dendam. Alasan kedua, mungkin ia mengincar posisi atau jabatan kita dan berniat mengambil posisi itu dengan terlebih dulu menjatuhkan nama baik kita. Alasan lain, dia lagi iseng memfitnah saja, dan kita yang apes ketiban ulahnya.

Apa pun penyebabnya, kita tak perlu kebakaran jenggot menanggapinya. Ingatlah bahwa kita orang penting. Kita sangat penting dan berharga, jauh lebih penting dari semua masalah kita. Sehingga tidak akan habis energi kita untuk mengurus hal-hal yang tidak penting.

Sekali lagi, kuncinya adalah merasa diri penting. Ketika kita tahu siapa diri kita, tentunya kita akan tumbuh sempurna. Kita dapat selalu menghormati dan menghargai diri sendiri. Seperti kata Dedy, bila orang menghormati dirinya, maka ia akan mencintai, menyayangi dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Juga, tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang tidak penting.

Jadi, berbahagialah Anda yang telah merasa menjadi orang penting dan berharga.